Review: The Living End

Jika ditanya mengenai album punk terbaik, secara subjektif memang Life in General milik MxPx masih menduduki posisi teratas karena kemampuannya dalam mengisi memori indah dan caranya memperkenalkan musik skateboard nan cepat sekaligus manis. Namun apabila melihat titik kegelisahan anak muda medioker di era milenium awal yang cenderung gampang haus akan pengalaman, album ketiga milik The Living End, Modern Artillery (2003), terbilang mampu menjadi jawaban segar bagi sesiapa yang merasakan dahaga pengalaman mendengarkan lagu enak, sampai detik ini. 

Continue reading “Review: The Living End”

Sweet Victory

Verse:
I feel the weight of the world on my chest
Sinking deep to the void, I can’t rest
Like lost in darkness, devils takin their role
Slowly consuming my soul

But I won’t let it be Im not gonna give in
I will rise like a phoenix, fly against the wind
Every ounce of my strength, I will stay I will stand
In the depths of despair, I’ll find myself fine

Continue reading “Sweet Victory”

Loneliness

In early 2000, I always say I wanna go to India. I wanna dive into their interesting culture, the smell of spices, the darjeeling tea, the temples, and all the hare-Krishna vibes. 

Meanwhile I practicing Islam, I found the incredible India in the figure of Mawlanaa al Kandahlawi, the writer of the book: Fadha’il Amal, which contains narrated hadith of the prophet Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallam (not really recommend this book if you looking for the most authentic shahih or if you compare it with shahih Al Bukhari or shahih Muslim or the other classic book), but it make me see in different theological point of view since I know there are so many people learn about hikma by spent 40 days or 6 months from mosque to mosque, knocking people’s door to invite them pray.

Continue reading “Loneliness”

Evolusi Tongkrongan: Pusara Gagasan Bebas

Sebelum gawai menjadi kebutuhan primer manusia, tempat-tempat nongkrong menjadi magnet untuk memperkaya referensi, jaringan pertemanan, sekaligus sebagai tempat praktik pertukaran energi yang dibalut komunikasi organik. Kala itu seantero negeri space-space tongkrongan pun mudah diciptakan; di depan gang, poskamling ronda, bawah jembatan, kursi di bawah tiang listrik, sampai rumah rekan sejawat selalu berhasil melahirkan ide-ide dan gagasan sesuai kapasitasnya masing-masing. Tak perlu dipanggil, apalagi janjian via telefon atau pesan singkat, pada jam-jam tertentu para kontributor tongkrongan secara otomatis akan mendatangi base-base mereka untuk mendapati anak tongkrongan yang lain. Dan apabila ia orang yg pertama datang, tanpa mengeluh dan rasa kesal ia akan tetap duduk disitu menunggu hingga teman yang lain datang.

Continue reading “Evolusi Tongkrongan: Pusara Gagasan Bebas”

Kisah Setelah Dua Dekade: Masih Waktunya Menjadi Nirvana

Sekitar 20 tahun yang lalu kita akan mudah mendapatkan sebuah band grunge merelakan waktunya berjam-jam untuk berada di studio rental lima belas ribuan, merekam jeritan mereka dengan walkman dan mengharapkan hasil rekaman seperti Bleach atau In Utero. Tentu saja mereka berhasil. Berhasil terlihat bodoh. Tapi, untuk sebuah effort perekaman demi mengabadikan suara yang ya ampun jelek banget, hal itu patut diacungi jempol. Butuh nyali besar untuk menimpa pita kaset Iwa K kesayangan milik abang kandung sendiri. Sebuah pemberontakan sejak dini itu kini lebih tepat disebut dengan kata sembrono, alih-alih huruf K di belakang nama Iwa yang mungkin artinya Kesayangan.

Continue reading “Kisah Setelah Dua Dekade: Masih Waktunya Menjadi Nirvana”