Jika ditanya mengenai album punk terbaik, secara subjektif memang Life in General milik MxPx masih menduduki posisi teratas karena kemampuannya dalam mengisi memori indah dan caranya memperkenalkan musik skateboard nan cepat sekaligus manis. Namun apabila melihat titik kegelisahan anak muda medioker di era milenium awal yang cenderung gampang haus akan pengalaman, album ketiga milik The Living End, Modern Artillery (2003), terbilang mampu menjadi jawaban segar bagi sesiapa yang merasakan dahaga pengalaman mendengarkan lagu enak, sampai detik ini.
Ketika video klip lagu Who’s Gonna Save Us muncul di televisi, bulu rockabilly seantero jagat bergidik. Keinginan untuk mendengarkan materi-materi baru The Living End kembali muncul setelah terakhir mendengarkan mereka saat menyadari artikulasi drum Dempsey sebelum digantikan Andy Strachan di album Roll On (2000) mirip dengan gaya Tre Cool di Insomniac, meskipun awalnya sempat mengira mungkin karena mendengar melalui kaset bootleg timpaan, tapi di saat yang sama menimbang dan melihat band dengan format trio sepertinya memang membutuhkan nuansa serupa untuk mengisi rongga dengar, tentunya pikiran itu lebih valid selain menduga adanya kesamaan referensi. Namun tak perlu menduga lebih karena di album Modern Artillery terjawab sudah. Aroma khas rockabilly semakin tercium jelas dan keduanya memiliki ruang untuk karakternya masing-masing.
Sebelum band-band indie Australia muncul di reels-reels Instagram seperti sekarang, negeri itu hanya memiliki Silverchair sebagai manifestasi teenage angst di awal tahun 2000-an. Sementara The Living End hanya berhasil dikonsumsi anak punk komplek dan beberapa teman-teman yang bersekolah di sana, sembari menarik diri dari popularitas AC/DC dan audisi vocal INXS, setelah Savage Garden perlu bertahun-tahun untuk menyamai popularitas Bee Gees lalu kemudian beristirahat dengan tenang di tahun 2001. Entah apa yang terjadi dengan The Vines, namun band sebayanya, The Living End, sudah curi start jauh sebelum mereka merasa harus Get Free. Bahkan musicologist Australia, Ian McFarlane, menyebutkan bahwa trio asal Melbourne ini sangat representatif sebagai gambaran musik rock Australia karena memadukan punk, rockabilly, dan rock murni dengan sukses. The Living End ketika merilis EP mereka Hellbound juga mencuri perhatian musicologist lain Ed Nimmervoll yang mengatakan “The Living End berpaling dari kebangkitan rock tahun 50-an dan mengadaptasi instrumentasi itu ke lagu-lagu asli yang kaya akan nuanasa punk Inggris ala Pistols dan Clash.”
Album Modern Artillery adalah mercu suar bagi pemuja punk dan bar. Track-track di album ini seperti meluapkan kegembiraan dengan flow tracklist yang disusun dengan cermat. Track What Would You Do membuka perkenalan nuansa album ini dengan menciptakan impresi pertama dengan sangat baik. Tidak sabar rasanya untuk menjajal telinga dengan track lainnya. One Said To The Other membuktikan bahwa track demi track memang layak ditunggu. Who’s Gonna Save Us di track ketiga hadir dengan lirik yang responsif dan sarat akan kegelisahan, tak heran jika lagu ini juga muncul di film dokumenter Michael Moore, Fahrenheit 9/11. Kontra-bass dan rockabilly adalah sebuah keniscayaan dalam track End Of The World. Bagi siapapun yang menginginkan sajian romantisme band dengan jurus three chords, Jimmy pasti jadi track yang kalian ingin dengarkan. Tabloid Magazine sepertinya jadi track yang unggul dari komposisi dan pembagian peran masing-masing personil di band ini. Komposisi sound gitar yang light dan kontra bass yang khas juga terasa di track In The End dan Maitland Street, dua lagu yang meyakinkan kita bahwa band ini memang kaya akan rasa. Semakin terdengar perpaduan rockabilly dan balad ala penyanyi jalanan di kota Melbourne saat track Putting You Down diputar sebagai ode untuk semangat yang tak boleh jatuh meski hidup kadang dirasa terlalu getir. Sempat terkejut sebentar saat track Short Notice berkumandang karena beat yg terdengar menggunakan midi di intro, trik jitu untuk ice-breaking dan tanpa harus berlama-lama untuk album ini kembali ke identitas The Living End, maka lagu ini memang harus punk sebelum menginjak pedal overdrive terakhir. Ah, ternyata ada adegan slide neck gitar di track So What, track yang manis untuk menemani sisa hari yang pelik. Apa yang lebih punk dari lirik tentang penolakan sebuah generasi? Track Rising Up From The Ashes ialah statement menolak untuk terberangus karena hakikatnya apilah sebaik-baik saksi kehidupan, beserta semua kekecewaannya. Track Hold Up cocok untuk menggambarkan skenario perampokan bank di tengah kota sembari mempersiapkan pita suara agar lantang untuk berteriak “Put the money in the bagggggg!”. Untuk yang sedang bersiap-siap ke chapter hidup selanjutnya, track The Room di akhir album ini wajib ditelisik liriknya agar pencarian selanjutnya bisa kita lihat dengan perspektif yang tergolong lebih mudah dan lebih perventif, berkaca dari kesulitan masa-masa sebelumnya. Album ini seharusnya menjadi temanmu, ini benar-benar album yang menyenangkan dan bijaksana.
