Sebelum gawai menjadi kebutuhan primer manusia, tempat-tempat nongkrong menjadi magnet untuk memperkaya referensi, jaringan pertemanan, sekaligus sebagai tempat praktik pertukaran energi yang dibalut komunikasi organik. Kala itu seantero negeri space-space tongkrongan pun mudah diciptakan; di depan gang, poskamling ronda, bawah jembatan, kursi di bawah tiang listrik, sampai rumah rekan sejawat selalu berhasil melahirkan ide-ide dan gagasan sesuai kapasitasnya masing-masing. Tak perlu dipanggil, apalagi janjian via telefon atau pesan singkat, pada jam-jam tertentu para kontributor tongkrongan secara otomatis akan mendatangi base-base mereka untuk mendapati anak tongkrongan yang lain. Dan apabila ia orang yg pertama datang, tanpa mengeluh dan rasa kesal ia akan tetap duduk disitu menunggu hingga teman yang lain datang.
Kita tidak menafikan perubahan struktur internal selain juga menjadi peran dalam evolusi tongkrongan. Satu persatu teman mulai memiliki kehidupan di luar majelis, seperti ke tempat lain untuk menimba ilmu, consciousness berlebihan terhadap konsep berkeluarga, atau bahkan untuk sebuah tongkrongan yang ditinggalkan seseorang untuk pergi ke Sang Maha. Tapi biasanya praktisi tongkrongan akan mudah beradaptasi terhadap base-base lain di tempat baru mereka. Di sinilah peran asam dan garam berlaku. Menemukan pribadi-pribadi yang serupa atau berbeda tentunya akan memberikan pelajaran baru bagi kehidupan kita. Kita juga akan melihat tata kelola yang berbeda di setiap tongkrongan. Fase ini membuka setengah dari tabir cakrawala mengenai kehidupan. Kenikmatan proses tumbuh kembang akan semakin berwarna apalagi jika kita diterima dengan baik di tongkrongan yang baru.
Kita tidak akan berbicara dari sudut pandang eksternal terhadap sebuah tongkrongan, karena peran internal lah yang lebih berpengaruh pada evolusi tongkrongan. Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada kecerdasan artificial, penulis merasakan dampak yang sangat ngehe dari hasil bahasa pemrograman, alih-alih mengkritisi kelas kuliah Sistem Operasi yang pernah penulis ikuti sebanyak 4 SKS semasa mengenyam ilmu pendidikan di perguruan tinggi. Cukuplah realita, tempat dan waktu kita, yang sekian persen dari 24 jam dalam sehari tidak lagi kita sisihkan untuk duduk bersama orang tersayang, bahkan saat sepasang mata kita membaca tulisan ini, menjadi bukti bahwa konsep tongkrongan dengan segala keindahan prosesnya, telah terkikis oleh dimensi-dimensi lain (yang mungkin saat diciptakan juga berawal dari tongkrongan) namun hasilnya terlalu memudahkan manusia dalam segala hal. Jika kita berfikir sesuatu yang instan itu justru membawa banyak manfaat untuk kehidupan ini, mungkin karena kita yang sudah terlalu manja. Ini seperti menggali lubang untuk kuburan sendiri. Menista bahasa pemrograman itu tak ayalnya seperti Nietzsche berkata “Tuhan telah mati” sementara Dia dan kebesaran-Nya ada di mana-mana. Sebuah paradoks yang tidak bisa ditafsirkan tanpa ada duduk ngobrol panjang dengan secangkir kopi dan sesobek boti, kembali pada kaidah tongkrongan yang selalu melahirkan gagasan-gagasan bebas.
