Kisah Setelah Dua Dekade: Masih Waktunya Menjadi Nirvana

Sekitar 20 tahun yang lalu kita akan mudah mendapatkan sebuah band grunge merelakan waktunya berjam-jam untuk berada di studio rental lima belas ribuan, merekam jeritan mereka dengan walkman dan mengharapkan hasil rekaman seperti Bleach atau In Utero. Tentu saja mereka berhasil. Berhasil terlihat bodoh. Tapi, untuk sebuah effort perekaman demi mengabadikan suara yang ya ampun jelek banget, hal itu patut diacungi jempol. Butuh nyali besar untuk menimpa pita kaset Iwa K kesayangan milik abang kandung sendiri. Sebuah pemberontakan sejak dini itu kini lebih tepat disebut dengan kata sembrono, alih-alih huruf K di belakang nama Iwa yang mungkin artinya Kesayangan.

Derita bagi telinga penikmat musik mainstream, derita pula yang dirasakan oleh abang-abang rental studio band. Banyaknya cymbal yang pecah dan snare drum yg sobek membuat beberapa rental studio band memasang tulisan “No Underground” di dinding studio mereka. Intimidasi itu memancing kemarahan band-band keras yang berakibat pengelabuan kepada petugas jaga studio. Heran jika sekarang ada petugas rental studio menanyakan apa genre band kalian sebelum memakai fasilitasnya, tapi itulah yang terjadi saat itu. Penghinaan dibalas penghinaan, begitu kira-kira yang dipikirkan petugas setelah mendengarkan band yang tadinya mengaku beraliran britpop ternyata mengcover The Exploited di dalam studio. Namun manusia bisa apa, Tuhanlah yang berkehendak. Dan band punk itu.

Masalah tidak hanya dialami oleh pengelola studio dengan sign “No Underground”, tapi begitu pula dengan penyedia rental studio yang melonggarkan spesifikasi genre sebagai batasan berkarya. Bak buah simalakama, peniadaan batasan itu menjadi magnet bagi pecinta kebebasan sekaligus menjadi perhatian ekstra terhadap inventari. Attitude personil dalam sebuah band sangat berpengaruh dalam memanajemen studio rental untuk jenis yang satu ini. Tak jarang, band yang datang digawangi oleh pria-pria alkoholik (biasanya ditemani 1 orang teman wanita) yang belum lulus ujian minum alkohol dengan responsibilitas. Maka, pihak studio kerap kesulitan apabila tanda “satu lagu lagi” menjadi lupa untuk digubris, selain kemungkinan adanya muntah Indomie yang berceceran di karpet lantai, dibalik speaker, sampai ke penjuru hi-hat.

Dua dekade berlalu, kini semuanya sudah berubah. Dari segi fasilitas, rental studio kini jauh lebih eksklusif. Tak ada lagi batasan genre untuk memakai fasilitas. Bahkan peningkatan kualitas alat-alat band sangat diperhatikan oleh penyedia rental. Begitupun juga para pengguna studio rental, kini sudah mengalami cara pandang yang jauh berbeda. Mereka berhasil merubah stigma bahwa musik keras tidak selalu membawa petaka. Mereka bisa bersikap dalam beretika dan lebih dewasa. Hingga kini, banyak band-band yang masih tetap produktif tanpa harus berubah genre dan selera, yang berubah hanya merk alkoholnya.

Leave a comment